Introduction
Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
Themes
Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |
Supported By :
Intip ruang lain dulu ya !
Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

NAWAKSARA.ID
Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.Diakses Pada: 2026-10-17 06:07:01
Sumber : https://nawaksara.id/wiyata/tantangan-standarisasi-pegon/

Tantangan Standarisasi Tata Tulis Aksar pegon
29 November 2024 | 1353 | By : Nawaksara
Setelah dua tahun sejak Kongres Digitalisasi Aksara Pegon yang diadakan oleh Kementerian Agama pada Oktober 2022 lalu, perkembangan aksara Pegon menunjukkan kemajuan signifikan. Salah satu pencapaiannya adalah aksara Pegon telah resmi dimasukkan ke dalam daftar Standar Nasional Indonesia (SNI) Aksara Nusantara. Selain itu, sudah banyak aplikasi digital pendukung baca-tulis aksara Pegon, termasuk aplikasi papan ketik Pegon Virtual Keyboard yang diluncurkan oleh Kementerian agama pada awal tahun 2024 lalu, yang dapat diunduh di Play Store dan App Store. Ini merupakan langkah strategis yang akan membawa aksara Pegon ke ranah yang lebih populer dan modern. Namun, di balik capaian tersebut, masih terdapat tantangan besar dalam hal standarisasi tata tulis aksara Pegon yang menjadi pekerjaan rumah bersama, baik para akademisi, praktisi, ataupun pemerintah.
Di antara rekomendasi hasil Kongres Aksara Pegon selain perihal digitalisasi adalah penyusunan standar tata tulis. Namun, sebagaimana dinyatakan oleh banyak peneliti dan praktisi aksara Pegon, proses ini bukanlah perkara kecil, membutuhkan konsensus luas dan serius untuk mencapai tujuan ini karena tradisi penulisan aksara Pegon sangat beragam. Perbedaan ini terlihat jelas antara Pegon Jawa, Madura, dan Sunda, yang memiliki karakteristik tata tulis unik masing-masing. Selain itu, bahkan dalam satu wilayah bahasa yang sama, perbedaan cara menulis tetap ditemukan. Misalnya, tata tulis Pegon Jawa di wilayah Pesisiran berbeda dengan wilayah Mataraman, dan di dalam satu wilayah pun mungkin terjadi perbedaan, antara pesantren yang satu dengan yang lain di wilayah yang sama mungkin memiliki tradisi tulis yang berlainan, atau bahkan antar-guru di dalam satu pesantren bisa juga mempunyai cara yang berbeda dalam menulis aksara Pegon.
Sayangnya, hingga kini, belum ada studi komprehensif yang secara serius memetakan perbedaan tata tulis aksara Pegon di berbagai daerah ini. Sebagai contoh, cara menulis bunyi "ga" dalam literatur lama Pegon Sunda lebih sering menggunakan huruf Kaf [ك] dengan titik satu di bawah, dalam literatur lama Madura lebih banyak menggunakan huruf Kaf dengan titik dua vertikal di bawah, dalam literatur Jawa cenderung bervariasi ada yang menggunakan Kaf titik satu, kaf titik dua, dan kaf titik tiga seperti kebanyakan aksara Pegon saat ini. Hal diferensiasi ini belum termasuk perbedaan dalam menulis kata dan kalimat, misalnya kata "Makan" bisa saja ditulis dengan empat variasi penulisan bahkan lebih jika dihitung dengan variasi kata berharakat dan tidak berharakat.
ماكان - ماكن - مكان - مكن
Fenomena ini tercermin pula dalam karya-karya terdahulu, di mana banyak penulis menggunakan gaya penulisan yang tidak konsisten. Hal semacam ini sering dikemukakan oleh para ahli yang menyebutkan bahwa satu penulis bisa menghasilkan beberapa cara penulisan berbeda dalam satu karya karena pengaruh lokalitas atau kebiasaan individu.
Perbedaan cara penulisan yang beragam ini dapat diilustrasikan ketika menulis sebuah merk rokok "Jarum Coklat". Seseorang boleh saja menulis "Djaroem Tjoklat," seperti ejaan Van Ophuijsen, seorang lainnya boleh juga menulis "Djarum Tjoklat," seperti ejaan Republik, dan orang lainnya juga boleh menulisnya "Djarum Coklat", "Jarum Tjoklat" dan 'Jarum Coklat". Jika hanya berpatokan pada adagium "yang penting penulis dan pembaca sama-sama paham", perbedaan ejaan tersebut tidaklah jadi masalah, toh seluruh variasi penulisan tersebut tetap terbaca dan terdengar sama, sehingga makna yang dimaksud juga sama, yaitu sebuah merek produk rokok. Namun demikian, dalam literatur yang ideal, konsistensi dalam ejaan dan penulisan sangat lah penting. Untuk itu, standar penulisan seperti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada bahasa Indonesia menjadi acuan penting demi menjaga keteraturan ini. Bahkan, EYD kemudian disempurnakan lebih lanjut menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) untuk memenuhi kebutuhan yang terus berkembang.
Bagi kebanyakan orang mungkin perbedaan tata tulis ini tidaklah menjadi masalah, yang penting suatu tulisan masih dapat dibaca dan dipahami oleh penulis maupun pembacanya. Namun, dalam konteks literasi yang ideal terutama dalam konteks kebutuhan digitalisasi, konsistensi menjadi syarat mutlak. Teknologi komputasi membutuhkan standar yang pasti untuk memproses dan mengenali suatu data teks. Dalam kasus perbedaan variasi tulisan seperti di atas dapat menyebabkan kebingungan dalam pengkodean digital jika tidak ada standarisasi. Oleh karena itu, sebagaimana EYD menjadi acuan dalam tata tulis Latin, aksara Pegon juga memerlukan standar serupa demi keberlangsungan literatur aksara pegon yang lebih mudah dipelajari dan diterapkan sesuai dengan konteks kemajuan zaman.
Upaya untuk membuat standar ejaan dan penulisan aksara Pegon bukan tidak pernah dilakukan sama sekali, Namun upaya-upaya yang pernah ada masih bersifat parsial dan belum mencapai kesepakatan besar yang mewakili seluruh pengguna aksara Pegon di berbagai daerah. Oleh karena itu, diperlukan suatu konsensus besar yang melibatkan semua pemangku kepentingan, baik dari pihak pesantren, komunitas budaya, akademisi dan pemerintah, agar standar yang dihasilkan benar-benar inklusif dan dapat diterima secara luas.
Dalam era digital yang selalu bersinggungan dengan komputasi, standarisasi tata tulis aksara Pegon menjadi kebutuhan mendesak, agar aksara ini tetap relevan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Meskipun proses untuk mencapai cita-cita ini tidak mudah, harapan tetap ada. Melalui kolaborasi lintas sektor dan komitmen bersama, aksara Pegon tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang sebagai salah satu warisan budaya yang relevan di masa depan. Sebagaimana pesan dari Kongres 2022, “Pelestarian aksara Pegon adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi antara tradisi dan inovasi”.
Bersama tulisan ini, hamba ingin menunjukkan beberapa sumber literatur yang dapat menjadi referensi awal bagi siapa saja yang tertarik untuk mendalami tata tulis aksara Pegon. Harapannya, literatur ini tidak hanya menjadi panduan, tetapi juga mendorong lebih banyak pihak untuk berkontribusi dalam proses konsensus standarisasi aksara Pegon di masa depan. Berikut adalah empat buku yang pernah menyusun atau membahas tata tulis aksara Pegon secara spesifik:
- Kitab Tjarakan Djawi - 'Arob [lihat]
- Patokanipun Basa Djawi kaserat Aksara Arab [lihat]
- Al-itqān [lihat]
- Soera Moehammadijah [belum tersedia online]
Literatur ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal dalam membangun kesadaran dan wawasan mengenai tata tulis aksara Pegon, sebagai langkah menuju standarisasi yang inklusif dan komprehensif.
Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.
Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.
PAGE LAYOUT
Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4
DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt
MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt










