NAWAKSARA.ID
home reading Aplikasi
user
LOGIN Install app Beri masukan Privacy police Hubungi kami Adopsi website
ANDA AKAN LOGOUT ?

sentuh disini

PROFIL
PARTNER
BLOG
PROJEK
PUSTAKA
DOWNLOAD
MERCHANDISE
KONTAK
Introduction

Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.

Themes

Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |

Around the Web
Supported By :

Intip ruang lain dulu ya !

Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

  1. Home
  2. Blog
  3. Pidato kemerdekaan 74

NAWAKSARA.ID

Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
find me on : nawaksara.id | @nawaksara.id | nawaksara channel

Diakses Pada: 2026-10-17 06:48:48
Sumber : https://nawaksara.id/wiyata/pidato-kemerdekaan-74/

Nawaksara : Pidato Kemerdekaan Indonesia ke 74

17 August 2019 | 273 | By : Nawaksara


﷽

Asslamualikum wr.wb Salam sejahtera untuk kita semua Shaloom, salam kebajikan, Namo buddhaya, om swasti astu...Sejatine ora ana apa-apa, sing ana dudu Sejatine aku ora sapa-sapa, sing sapa-sapa dudu aku Sejatine aku ra weruh apa-apa, sing weruh apa-apa du aku. Rahayu.. 3x Selamat pagi saudaraku... Pagi yang cerah dengan semilir angin segar dibawah pohon yang pernah menjadi saksi sejarah bangsa ini, mari kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberi kita nikmat tak terbatas, tanpa payah, tanpa darah, nikmat tanpa todongan bedil kumpeni, tanpa dentuman suara meriam atau pekik tangis para janda dan anak yang bapaknya di medan perang. == transkrip yang tidak terrekam == 74 tahun sudah bangsa indonesia mengikrarkan kemerdekaannya, selama itu pula sangsaka merah putih berkibar tinggi di angkasa, berjuta bangga tertanam dalam dada, namun apakah kita mengerti apa arti merdeka ? Apakah merdeka artinya menang melawan penjajah ? Seperti yg tertulis dalam buku sejarah, Atau kemerdekaan itu adalah sebuah kebebasan untuk melakukan hal-hal semaunya, Seperti kebebasan para petinggi negara meraup sumber daya alam indonesia dari tangan rakyat, Atau kebebasan para pemeluk agama yang sibuk mengambil alih peran sebagai Tuhan, menghakimi umat secara biadab dengan dalih nahyi munkar. Atau seperti bebasnya mulut-mulut kita melontarkan kritik, pemikiran, bahkan hujatan kepada siapa saja yang berbeda pandangan dengan nafsu kita ?? Tidaaaak !!! Bukan, bukan itu makna dan tujuan kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Bung Karno, atas nama bangsa indonesia pada 17 agustus 1945. Saudaraku sebangsa dan setanah air, Mari kita tengok sabdo pandito yang disusun oleh para pendiri bangsa yang tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar : Atas berkat rahmat allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara indonesia yang melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang berdasar kepada: ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Jelas !!! Bahwa kemerdekaan yang dicita-citakan oleh para perumus negara ini adalah kesejahteraan, kecerdasan prilaku berbangsa dan bernegara, perdamaian abadi serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Coba kita tengok apakah tujuan kemerdekaan itu sudah kita capai ? Atau masih menjadi cita-cita yang terapung di atas langit ? Pagi ini, di atas bumi yang pernah menjadi saksi bisu perjalanan sang proklamator ini, mari kita teriakan dengan lantang keyakin ini, keyakinan yang optimis memandang masa depan, keyakinan yang juga merupakan doa dan harapan segenap bangsa indonesia dari sabang sampai meraku, keyakinan yang tidak pernah luntur walau dihatam oleh gledek kapitalisme dan neo-imperialisme.... Yaitu keyakinan bahwa kita telah mencapai kemerdekaan, kita telah merdeka !!! Kita harus merdeka !!! Kita wajib merdeka !!! Merdeka... Merdeka... . . . . . . . Teriakan lantang tadi, menjadi ikrar kita bersama bahwa setelah ini kita akan benar-benar merdeka, yaitu berani menjadi bangsa yang mandiri, berani tampil di tengah persaingan hegemoni, berani menunjukan jubah kebesaran peradaban negeri nusantara yang diwariskan oleh leluhur bangsa ini. Bukankah seluruh dunia sudah tahu bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang pernah mempersatukan negeri-negeri sekitar, bangsa yang memilik kekayaan alam, keaneka ragaman, suku, agama, budaya, bahasa, aksara, adat, tradisi, pakaian, senjata, bahkan keaneka ragaman warna kulit dan perawakan !! Lalu, kenapa kita masih malu-malu mengakui jati diri bangsa, dan lebih memilih bangga sebagai bangsa asing, kehidupan beragama telah menggeret sebagian saudara kita berprilaku naif, semestinya Apa yang pernah dilontarkan bung karno pada salah satu pidatonya benar-benar harus kita terapkan. Ia pernah berkata : “kalau jadi hindu jangan jadi orang india, kalau jadi orang islam jangan jadi orang arab, kalau kristen jangan jadi orang barat, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini” Keresahan lain, dalam menyuarakan kemerdekaan bangsa ini adalah sebuah pertanyaan penting, kenapa kita masih tidak PD mengakui bahwa leluhur kita juga memiliki pemikiran, pandangan, filsafat, teori-teori keilmuan yang tidak kalah hebatnya dibanding doktrin-doktrin westernisme yang kita enyam di bangku-bangku sekolah, di kelas- kelas kuliah, dan di pelataran institusi-institusi negara yang lebih bangga menggunakan simbol-simbol barat, bahasa-bahasa barat, dan teori-teori ilmuan barat. Para sarjana lebih bangga dan pd melontarkan teori pedagogiknya bruce joyce dan marsha well dari pada teori pendidikannya Ki Hajar Dewantara, Para pemikir kita lebih bangga mengangkat teori filsafat waktunya Agustinus atau Martin Heidegger dari pada teori Cokro manggilingan-nya Ronggowarsito. Saudaraku yg aku cintai, Marilah kita sebentar menengok kedalam diri kita, benarkah kita sudah merdeka, benarkah kemerdekaan bangsa ini telah kita rasakan ?? Tanya kepada diri kita, sejauh mana kita merdeka menggenggam jati diri bangsa, ataukah jiwa kita masih dikuasai oleh euforia kebarat-baratan atau manisfestasi keimanan yang kearab-araban. Mari pagi ini kita ikrarkan dalam diri, bahwa dari sabang sampai merauke adalah bumi nusantara yang kaya, siapapun yang hidup berpijak diatas buminya adalah saudara kita. Para leluhur yang berkiprah membangun peradaban diatasnya adalah orang tua yang wajib anut dan pegang petuhnya. Wajib kita amalkan pemikiran adiluhunya. Jika kita sudah bisa mengikat diri kita dengan ruh nusantara ini, tidak ada aku, tidak ada kamu, untuk berubah kita semua harus bersatu tidak bergantung pada siapapun di negeri luar sana. Maka kita benar-benar merdeka !!! Sebelum saya tutup, saya ingin mengajak saudaraku semua melantuntan lagu yang tercipta dari timur jauh negeri ini namun masih kuat erat mengabdi dan berbakti pada negeri kita, indonesia... Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala Tetap di puja-puja bangsa Reff : Di sana tempat lahir beta Dibuai dibesarkan bunda Tempat berlindung di hari tua Tempat akhir menutup mata Sungguh indah tanah air beta Tiada bandingnya di dunia Karya indah tuhan maha kuasas Bagi bangsa yang memujanya Reff : Indonesia ibu pertiwi Kau kupuja kau kukasihi Tenagaku bahkan pun jiwaku Kepadamu rela kuberi

Tagar : Sosial, Wicara

Nawaksara

Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.

Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.






Font size : 18

PAGE LAYOUT

Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4

DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt

MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt

18 pt

FITUR DIBATASI !

Silakan LOGIN untuk menampilkan fitur berikut :
Terjemah naskah | Bergabung di forum | Menguji project Beta | mengunduh file digital, dll

SENTUH UNTUK LOGIN

Leave a Comment
Cancel

You must be logged in to post a comment.

Categories
  • Ebook
  • Karya
  • Presentasi
  • Sastra
  • Wiyata
Tags
Akhlaq Alquran Aqidah Bahasa Biografi Cacarakan Cinta Fiqih Ghaib Hadits Ibadah Islam Jawa Kasampurnan Kawi Kejawen Keluarga Kristen Majalah Mardikawi Muhammadiyah Nahwu & Sharaf Panji Paramasastra Pegon Pesantren Politik Primbon Puasa Sasmita Sejarah Seni Serat Sosial Sunda Syi'ir Tarekat Tasawuf Tauhid Theosofi Walisongo Wanita Wayang Wicara Wirid & Doa
APLIKASI
Bali Keyboard
Bali Keyboard
Sunda Keyboard
Sunda Keyboard
Makassar Keyboard
Makassar Keyboard
Lonatara Keyboard
Lonatara Keyboard
Batak Keyboard
Batak Keyboard
Kawi Keyboard
Kawi Keyboard
Pegon Keyboard
Pegon Keyboard
Jawa Keyboard
Jawa Keyboard
Aksarecon
Aksarecon
Kamus Indonesia – Huruf Arab
Kamus Indonesia – Huruf Arab
Peta Aksara
Peta Aksara
profil
4.184.036 VISITOR
Copyright © nawaksara.id 2026

Siaaaap !!!

Btw, tengkiyu ya udah menghubungi Nawaksara, silakan tuliskan ide, saran, atau keperluan kamu disini...


Add To Home Screen

Akses laman nawaksara.id lebih cepat melalui layar utama perangkat anda.

DESKTOP VIEW
Tampil sebagai shortcut

MOBILE VIEW
Tampil sebagai aplikasi

Galeri Nawaksara