Introduction
Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
Themes
Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |
Supported By :
Intip ruang lain dulu ya !
Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

NAWAKSARA.ID
Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.Diakses Pada: 2026-10-17 06:06:47
Sumber : https://nawaksara.id/wiyata/pegon-siapa-peduli/

Pertaruhan Esksistensi Aksara Pegon: Siapa yang Mau Peduli ?
22 August 2025 | 610 | By : Nawaksara
Saya tergelitik ketika membaca opini yang menyoal kewajiban penggunaan Pegon di Ma'had 'Aly [baca sumber]. Sebagai seorang yang sejak beberapa tahun terakhir ikut mengembangkan aksara Nusantara, termasuk Pegon, saya merasa sedih sekaligus tergugah. Sedih, karena Pegon sering kali dipandang sebelah mata, seolah-olah hanya beban formalitas yang tak memberi manfaat nyata. Namun di sisi lain, saya juga tergugah, sebab justru pandangan semacam itu memotivasi saya untuk memberikan penjelasan dan berbagi fakta yang mungkin bisa memperkaya diskusi ini. Melalui tulisan ini saya berharap bisa menguatkan kesadaran bersama bahwa Pegon bukan hanya warisan budaya, melainkan instrumen strategis bagi keberlanjutan tradisi ilmiah, khususnya di lingkungan akademik pesantren dan Ma'had 'Aly.
Pegon Sebagai Eksistensi
Pertama, mengenai aksara Pegon yang dipandang "hanya" berfungsi untuk mempermudah penyebaran Islam, bahkan dikatakan fungsi terbesarnya adalah sebagai "media pertama" bukan sebagai identitas suatu golongan. Pernyataan ini bukannya salah, tetapi tidak mewakili fungsi Pegon dalam konteks sejarah. Jika tujuan utamanya hanya mempermudah, tentu para ulama penyebar dakwah Islam awal kala itu cukup menggunakan aksara lokal yang sudah dikuasai masyarakat, misalnya aksara Jawa di tanah Jawa, aksara Lontara di Makassar, atau aksara Sasak di Lombok misalnya. Namun faktanya, ulama justru memperkenalkan Aksara Arab Pegon. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya bukan sekadar memudahkan, melainkan sekaligus menghadirkan identitas baru yang menghubungkan masyarakat Nusantara dengan tradisi keilmuan Islam global. Dengan cara ini, umat Islam di Nusantara tidak tercerabut dari akar kebudayaannya, tetapi juga tidak terlepas dari arus peradaban Islam yang lebih luas.
Dalam dunia akademik, setiap lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki ciri khas. Universitas Islam di Timur Tengah menggunakan bahasa Arab fusha, lembaga di India-Pakistan banyak menggunakan Urdu, sementara pesantren Nusantara sejak dahulu memiliki Pegon sebagai ekspresi keilmuan. Distingsi ini dipertahankan sebagai penanda identitas epistemik. Jika Ma'had 'Aly tidak meneguhkan distingsi ini, ia akan kehilangan keunikan dan hanya menjadi duplikat perguruan tinggi lain. Maka, menjaga distingsi lewat Pegon adalah bagian dari menjaga martabat dan otentisitas tradisi pesantren. Menulis dengan Pegon bukan semata nostalgia, melainkan pernyataan eksistensi bahwa pesantren punya tradisi tulis sendiri yang layak disejajarkan dengan tradisi akademik manapun.
Transmisi Penulisan Pegon
Kedua, mengenai kekhawatiran akan kemanfaatan karya tulis aksara Pegon. Pernyataan bahwa karya tulis dengan aksara Pegon tidak dapat menjawab problema masyarakat adalah kekhawatiran yang kurang berdasar. Justru, karya-karya yang ditulis dengan aksara Pegon tetap bisa diarahkan pada tujuan utama penelitian, yakni kemaslahatan dan kebermanfaatan. Bedanya, manfaat itu justru menjadi berlapis yakni melanjutkan tradisi keilmuan para ulama Nusantara yang sejak berabad-abad menulis karyanya dengan aksara Pegon seperti KH Sholeh Darat, KH Bisri Musthofa, KH Hamid Kendal, KH Asnawi Kudus, dan banyak lagi.
Artinya, penggunaan Pegon tidak menjadi kendala bagi kemanfaatan, melainkan peneguhan identitas sekaligus kontinuitas sejarah keilmuan para Ulama Nusantara. Jika dahulu para ulama bisa menyampaikan nilai-nilai Islam dan membimbing masyarakat luas melalui karya-karya Pegon, saya yakin mahasiswa Ma'had 'Aly saat ini juga bisa melakukan hal yang sama. Dengan begitu, Tugas Akhir berbasis Pegon bukanlah “utopia”, melainkan upaya strategis untuk menghadirkan ilmu yang bermanfaat sekaligus menjaga warisan intelektual pesantren agar tetap hidup.
Misi Tersembunyi ?
Ketiga, perihal dugaan atas adanya misi besar tersembunyi dibalik penggunaan Pegon di Ma'had 'Aly. Dalam hal ini tampaknya memang perlu dibocorkan situasi sebenarnya, agar semuanya terang benderang serta menjadi pemikiran bersama para pemangku kebijakan.
Ya, memang benar ada “misi besar” di balik dorongan penggunaan Pegon, tetapi misi itu jauh lebih luhur daripada sekadar kecurigaan atau kekhawatiran yang muncul. Di era ketika teknologi berkembang begitu pesat, para pegiat aksara di Nusantara telah berupaya mengikuti arus kemajuan ini. Lihat saja aksara Jawa yang sudah memiliki papan ketik digital, dukungan Unicode, berbagai aplikasi pembelajaran modern, atau bahkan aksara Bali yang baru saja rilis dengan International Domain Name (IDN) di ruang internet dunia. Hal ini membuktikan bahwa aksara tradisi bisa naik kelas dan bertahan di ruang modern ketika ada upaya serius untuk membawanya ke ranah strategis dan komputasi digital.
Sayangnya, kondisi Pegon jauh tertinggal. Hingga kini, sumber data aksara Pegon di internet masih sangat sedikit. Khazanah ulama Nusantara yang ditulis dengan Pegon hampir tidak pernah diangkat ulang, bahkan sekadar ditranskripsi pun jarang dilakukan. Akibatnya, karya-karya besar yang lahir dari ulama-ulama kita justru sulit dijangkau, seakan-akan terasing dari pusat data dunia di tengah generasi digital sekarang. Anehnya, alih-alih diberdayakan, upaya untuk menghidupkannya melalui ruang akademik di institusi pendidikan malah dicurigai.
Padahal, jika melihat masa depan teknologi, aksara Latin, Arab, Devanagari, bahkan Arab Jawi Malaysia sudah sangat mapan. Mereka bisa digunakan dalam fitur-fitur modern seperti suggestion word pada sistem keyboard, autocorrection di Microsoft Word, hingga sistem input canggih lain yang mendukung pembahasaan dan aksara pada perangkat modern. Semua itu mungkin terjadi karena mereka giat mengangkat literatur dan data aksara mereka ke ruang teknologi. Pegon, di sisi lain, akan tetap tertinggal jika tidak segera dibawa ke ranah ini.
Komunitas aksara Nusantara jelas membutuhkan dataset besar untuk menyiapkan masa depan teknologi Pegon, misalnya untuk kebutuhan OCR (Optical Character Recognition) atau pengenalan tulisan tangan (handwriting recognition). Tanpa pasokan literatur yang massif, mustahil Pegon bisa beradaptasi dengan teknologi baru. Karena itu, sejak sekarang khazanah ulama Nusantara yang ditulis dalam Pegon harus mulai ditata ulang dan diangkat menjadi karya-karya yang hidup dan tercatat di ruang digital, bukan dibiarkan berdebu di rak-rak kitab kuning.
Untuk itu, Pegon butuh dukungan nyata dari institusi, lembaga, dan komunitas yang kredibel. Dan di sinilah Ma'had 'Aly sebetulnya paling tepat mengambil peran. Sebagai lembaga akademik berbasis pesantren, Ma'had 'Aly bukan hanya menjaga keberlangsungan diskursus keilmuan Islam, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak yang menjembatani khazanah Pegon dengan kebutuhan teknologi masa depan. Jika tidak, bukan tidak mungkin ruang kosong ini justru diisi oleh pihak lain. Kita tahu, belakangan lembaga kitab suci agama lain cukup aktif memperbaharui penerjemahan kitab suci dengan aksara daerah, termasuk Pegon. Apalagi sejarah mencatat, aksara Pegon memang pernah dipakai untuk menulis kitab Injil.
Dengan demikian, misi besar penggunaan Pegon bukanlah sekadar formalitas atau sekadar simbol identitas, melainkan upaya serius agar aksara Pegon tetap hidup dan berkelanjutan, serta menyiapkan generasi mendatang agar tetap memiliki akar keilmuan yang kuat sekaligus akses teknologi yang mumpuni.
Sebagai penutup, saya mohon maaf bila ada kata-kata dalam tulisan ini yang kurang berkenan. Semoga apa yang saya sampaikan dapat dipahami sebagai bentuk kecintaan terhadap tradisi sekaligus kegelisahan akan masa depan Pegon. Mari kita jadikan diskusi ini sebagai ajakan bersama untuk merawat, mengembangkan, dan meneguhkan Pegon sebagai warisan ulama sekaligus bekal berharga bagi generasi mendatang.
Akhir kata, mari buktikan eksistensi aksara Pegon dengan menekan tombol icon bola dunia di pojok kanan bawah ! anda akan membaca tulisan ini dengan teks beraksara Pegon
Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.
Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.
PAGE LAYOUT
Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4
DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt
MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt











