NAWAKSARA.ID
home reading Aplikasi
user
LOGIN Install app Beri masukan Privacy police Hubungi kami Adopsi website
ANDA AKAN LOGOUT ?

sentuh disini

PROFIL
PARTNER
BLOG
PROJEK
PUSTAKA
DOWNLOAD
MERCHANDISE
KONTAK
Introduction

Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.

Themes

Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |

Around the Web
Supported By :

Intip ruang lain dulu ya !

Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

  1. Home
  2. Blog
  3. Menakar kawi

NAWAKSARA.ID

Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
find me on : nawaksara.id | @nawaksara.id | nawaksara channel

Diakses Pada: 2026-10-17 06:09:10
Sumber : https://nawaksara.id/wiyata/menakar-kawi/

Menakar Kesahihan Terminologi Aksara Kawi

2 June 2024 | 2015 | By : Nawaksara


Suatu hari, saya pernah berkesempatan untuk berbincang intensif dengan salah seorang warga suku Baduy, kami berbincang dari jam 19 sampai sekitar jam 05.30, saat matahari hampir terbit. Dari sekian banyak pembahasan mulai perkenalan nama hingga masalah semesta. Saya tergelitik ketika membicarakan masalah agama orang Baduy, bukan tentang konsep-konsep teologis yang rumit, bukan pula tentang kitab suci atau ritus-ritus orang Baduy yang naturalistik, melainkan tentang sebuah "nama" untuk menyebut agama yang mereka anut. Percakapan kami kurang lebih begini (percakapan aslinya berbahasa sunda):

Saya:Pak, saya boleh tanya sesuatu ?
Casma:Silahkan !
Saya:Orang Baduy menganut kepercayaan (kepada Tuhan) seperti apa ?
Casma:Orang Baduy mah menganut (agama) "Adab"
Saya:Bukan Sunda Wiwitan ya, pak ?
Casma:Ya, orang-orang mah menyebutnya begitu, tapi silahkan mau disebut apa aja, silahkan !
Saya:(sambil memastikan, saya ulangi pertanyaan) Memang istilahnya bukan Sunda Wiwitan ya ?
Casma:Ya, silahkan mau disebut Sunda Wiwitan juga.
Saya:Oh !!!

Percakapan kami mengenai agama itu tidak berlanjut hingga menemukan jawaban yang memuaskan, selain karena keterbatasan komunikasi, saya memaklumi pertanyaan yang saya lontarkan terlalu privat. Jawaban Mang Casma mengingatkan saya pada curhatan salah seorang tetua adat Bayan beberapa tahun silam, ia menceritakan tentang salah kaprahnya para peneliti ketika mendefinisikan "Wétu Tělu" dalam konsep adat dan kepercayaan suku Sasak Bayan.

Baik mengenai nama kepercayaan orang Baduy ataupun definisi Wétu Tělu pada kasus di atas, keduanya menunjukkan adanya kesenjangan ekuivalensi antara objek penelitian dengan terminologi ataupun definisi yang dibuat oleh para peneliti. Walaupun terkesan tidak otentik, terkadang hal ini tidak bisa dihindari karena adanya tuntutan kerangka ilmiah yang mengikat. Pengistilahan dan definisi konsep dalam penelitian memungkinkan para peneliti untuk mengarahkan dan membingkai studi mereka sesuai dengan tujuan dan metodologi yang telah ditetapkan, meskipun definisi tersebut mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan perspektif atau pemahaman dari objek penelitian itu sendiri.

Dalam hal ini, setidaknya bagi saya pribadi telah menimbulkan paradoks sekaligus kegamangan pada saat meneliti sejarah aksara Nusantara. Belum sampai pada penelusuran mendalam tentang aksara-aksara daerah, saya terjebak pada terminologi (pengistilahan) aksara yang digunakan pada masa antara abad ke-8 sampai abad ke-16, sebelum aksara tersebut mempengaruhi atau berkembang menjadi aksara-aksara yang diatribusikan kepada nama wilayah atau suku pengguna aksara tersebut, seperti aksara Jawa, Sunda, Bali, Batak, Mbojo, dan sebagainya.

Bagaimana dengan istilah "Aksara Kawi" ?

Sebelum mengerucut pada pengistilahan "Kawi", banyak peneliti menyebutnya dengan istilah Aksara Jawa Kuno, namun penyebutan ini terkesan tidak fair karena hanya mengatribusikan Jawa pada aksara tersebut, padahal aksara dengan bentuk serupa atau paling tidak memiliki corak tipografi yang sama, juga digunakan di daerah dan dalam bahasa lain selain Jawa, misalnya Melayu kuno, dan Sunda kuno.

Di tengah sepinya penelitian-penelitian terkait paleografi, namun di sisi lain sedang ramai-ramainya para pegiat aksara Nusantara baik di media sosial atau di dalam komunitas, istilah Aksara Kawi disepakati begitu saja walaupun tanpa konsensus formal, karena terminologi ini dianggap lebih general dan tidak mengatribusi suatu bahasa, suku, atau wilayah tertentu. Sehingga pada saat aksara ini diajukan ke UNICODE oleh para pegiat aksara Nusantara dan didukung oleh PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), terdaftar dengan nama "Kawi Script"[1], yang kemudian dipublikasi pada tabel Unicode rentang U+11F00 - U+11F5F.

Bukan tanpa alasan, para pegiat dan para sarjana yang sering terlibat dalam perhelatan renaisans aksara Nusantara, lebih memilih penyebutan Aksara Kawi berdasarkan pada sumber-sumber yang dipercaya. De Casparis misalnya, dalam buku Indonesian Palaeography menyebut aksara yang berkembang setalah Pallawa dengan sebutan Kawi, bahkan ia tampak berusaha mengkategorikan Kawi ke dalam dua periode yang ia sebut dengan Kawi awal dan kawi Akhir. K.F Holle dalam Table van Oud-en-Nieuw-Indische alphabetten juga mengambil terminologi Kawi untuk menyebut aksara yang berkembang di Nusantara setelah aksara pengaruh India.

K.F Holle dalam Table van Oud-en-Nieuw-Indische alphabetten menjelaskan perkembangan aksara kuno di Hindia Belanda secara berurutan India-Kawi-Jawa

Apakah pengistilahan "Kawi" sudah tepat ?

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahi terminologi yang dikemukakan para ahli, bukan pula untuk menggugat kesepakatan para pegiat aksara dan para sarjana seperti saya sebutkan di atas. Tulisan ini berlandaskan pada karakter pemikiran kritis dan kontekstualisasi historis yang menekankan pentingnya merujuk data sejarah sesuai dengan konteks zaman saat kejadian sejarah berlangsung. Pendekatan ini membantu mencegah anakronisme dan memastikan interpretasi yang lebih akurat dan memahami peristiwa masa lalu berdasarkan nilai dan kondisi yang berlaku pada waktu itu.

Belum diketahui kapan para ilmuwan pertama kali menggunakan istilah "Kawi" untuk menyebut aksara periode pasca Pallawa. Catatan dari para ahli seperti Kern, Juynboll, Van Der Tuuk, Ronggowarsita, Poerbatjaraka, hingga Zoetmoelder menyatakan bahwa istilah "Kawi" mengacu pada dua hal: pertama, profesi seseorang yang ahli menulis sastra puitis pada zaman itu yang disebut Sang Kawya atau Parakawi[2], dan kedua, bentuk karya sastra ciptaannya yang disebut Kakawin[3]. Namun, sejauh yang pernah saya baca, tidak satupun ahli memberikan keterangan bahwa istilah "Kawi" adalah nama sebenarnya untuk jenis aksara tersebut. Tidak ada sumber naskah atau prasasti yang diajukan sebagai data primer yang menyebut secara eksplisit bahwa aksara pada zaman itu disebut "Aksara Kawi". Saya menaruh curiga bahwa penyebutan istilah "Aksara Kawi" serupa dengan kasus para peneliti menyebut "Sunda Wiwitan" untuk agama orang Baduy seperti perbincangan saya dengan Mang Casma. Bisa jadi, orang-orang pada zaman itu justru menyebutnya dengan istilah lain, "Aksara Wigna" atau "Aksara Astu" misalnya, mengacu pada kalimat pertama pada kakawin-kakawin, atau "Aksara Kabuyutan", yang mengacu pada lokasi naskah-naskah itu ditulis.

Berkaitan dengan hal di atas, saya masih merasa janggal dan menyimpan banyak pertanyaan. Jika penyebutan aksara Kawi hanya mengacu pada terminologi Sang Kawya atau Parakawi yang merupakan ahli sastra dengan bahasa puitis, atau pada istilah Kakawin sebagai bentuk sebuah karya. Lalu bagaimana dengan aksara yang digunakan untuk menulis prasasti baik berupa piagam atau tugu yang dibuat oleh para Citralekha yang isinya ditulis dengan bahasa yang lugas, bahkan sumpah serapah seperti pada parasasti-prasasti sapatha. Bukan kah lebih tepat jika disebut "Aksara Citralekha", "Aksara Tugu", "Aksara Sapathan" atau "Aksara Śaka" misalnya, yang mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan bentuk prasasti dan isinya.

Selain itu, bagaimana terminologi ini bisa menjawab sebuah fakta bahwa kakawin-kakawin yang ditulis pada masa akhir Majapahit seperti Nagarakretagama, Sutasoma, dan ribuan kakawin yang terus disalin oleh para pujangga di Bali, tidak ditulis dengan bentuk aksara seperti yang tergurat pada prasasti ? apakah bentuk aksara seperti ini juga disebut aksara Kawi ?. Alih-alih menyebutnya dengan aksara Kawi (padahal bentuk sastranya berupa kakawin), alam bawah sadar para ahli aksara, epigraf, filolog, besar kemungkinan akan mengidentifikasinya sebagai aksara Bali, aksara Jawa era pertengahan, atau aksara Sasak. Dalam hal ini, lagi-lagi terminologi "Aksara Kawi" masih menyisakan kesan anakronis karena tidak melihat konteks zaman dan kebudayaannya secara menyeluruh.

Setengah lempir pertama Naskah Negarakertagama (perpusnas NB.9) yang ditemukan oleh Dr. J.L.A. Brandes di istana Cakranegara, Lombok pada tanggal 18 November 1894. Identifikasi kekinian akan menyebutnya sebagai tipe aksara Bali, atau aksara Sasak karena ditemukan di dalam wilayah suku Sasak

Lalu, apa nama yang tepat untuk aksara pada periode ini ?

Jawaban atas pertanyaan inilah yang selama ini hamba cari. Mengingat perkembangan aksara dan kemajuan tradisi literasi pada periode ini begitu kompleks. Di wilayah Sunda dan Melayu misalnya, karya-karya sastra dan prasasti yang ditulis pada periode ini tidak termasuk dalam batasan definisi "Aksara Kawi" seperti penjelasan para ahli, yang sebagian besar mengacu kepada artefak-artefak dan tradisi tulis di Jawa. Selain memiliki bentuk yang berbeda, bahasa yang berbeda, tradisi tulis di Sunda dan Melayu mempunyai aturan penulisan yang tidak sama dengan di Jawa. Sehingga pendapat yang menyatakan bahwa aksara Sunda Kuna (Buyut, Carik) dan Buda Gunung adalah turunan dari aksara Kawi, perlu ditinjau ulang (saya juga pernah mempunyai pandangan yang sama mengenai hal ini). Perkembangan dan penggunaan aksara-aksara tersebut beriring bersamaan, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi saling silang pengaruh satu sama lain.

Sekali lagi, tulisan ini bukan dalam rangka menggugat apalagi menghakimi kerja-kerja intelektual para ahli dalam menentukan suatu terminologi pada konteks kesejarahan. Paling tidak, keraguan-keraguan, pertanyaan radikal, atau pandangan kritis terhadap suatu nomenklatur yang secara stereotipe dianggap mapan, diharapkan bisa memunculkan temuan-temuan baru yang menyegarkan. Lebih jauh lagi, secara pribadi hamba berharap kecamuk tanya yang bertubi-tubi mengenai sejarah aksara Nusantara ini bisa memicu gairah para pembaca untuk mengenal lebih dekat warisan kebudayaan Nusantara yang adiluhung ini, dari rasa penasaran semoga tumbuh rasa cinta, dari rasa cinta semoga tumbuh kepedulian, dari kepedulian itulah kita bersama-sama merawat, menjaga dan melestarikan warisan kebudayaan ini untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, dan berwibawa.

  1. Aditya Bayu, Ilham Nurwansyah, Proposal to encode Kawi, 2020
  2. OJED: prakawi 826:3.9 the poets (= para kawi); versed in poetry
  3. OJED: kakawin 826:3.7 poem (in Indian metres)

Tagar : Kawi

Nawaksara

Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.

Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.






Font size : 18

PAGE LAYOUT

Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4

DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt

MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt

18 pt

FITUR DIBATASI !

Silakan LOGIN untuk menampilkan fitur berikut :
Terjemah naskah | Bergabung di forum | Menguji project Beta | mengunduh file digital, dll

SENTUH UNTUK LOGIN

Leave a Comment
Cancel

You must be logged in to post a comment.

Categories
  • Ebook
  • Karya
  • Presentasi
  • Sastra
  • Wiyata
Tags
Akhlaq Alquran Aqidah Bahasa Biografi Cacarakan Cinta Fiqih Ghaib Hadits Ibadah Islam Jawa Kasampurnan Kawi Kejawen Keluarga Kristen Majalah Mardikawi Muhammadiyah Nahwu & Sharaf Panji Paramasastra Pegon Pesantren Politik Primbon Puasa Sasmita Sejarah Seni Serat Sosial Sunda Syi'ir Tarekat Tasawuf Tauhid Theosofi Walisongo Wanita Wayang Wicara Wirid & Doa
APLIKASI
Bali Keyboard
Bali Keyboard
Sunda Keyboard
Sunda Keyboard
Makassar Keyboard
Makassar Keyboard
Lonatara Keyboard
Lonatara Keyboard
Batak Keyboard
Batak Keyboard
Kawi Keyboard
Kawi Keyboard
Pegon Keyboard
Pegon Keyboard
Jawa Keyboard
Jawa Keyboard
Aksarecon
Aksarecon
Kamus Indonesia – Huruf Arab
Kamus Indonesia – Huruf Arab
Peta Aksara
Peta Aksara
profil
4.183.870 VISITOR
Copyright © nawaksara.id 2026

Siaaaap !!!

Btw, tengkiyu ya udah menghubungi Nawaksara, silakan tuliskan ide, saran, atau keperluan kamu disini...


Add To Home Screen

Akses laman nawaksara.id lebih cepat melalui layar utama perangkat anda.

DESKTOP VIEW
Tampil sebagai shortcut

MOBILE VIEW
Tampil sebagai aplikasi

Galeri Nawaksara