Introduction
Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
Themes
Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |
Supported By :
Intip ruang lain dulu ya !
Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

NAWAKSARA.ID
Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.Diakses Pada: 2026-10-17 06:09:19
Sumber : https://nawaksara.id/wiyata/lebaran-toleranasi/

Lebaran 1354 H, Hari Raya Toleransi Ala Kyai Asnawi Kudus
2 April 2025 | 1306 | By : Nawaksara
Hari Raya Idul Fitri atau yang sering disebut dengan istilah Lebaran adalah momen kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi atas perjalanan spiritual dalam menahan hawa nafsu dan membersihkan diri dari hal-hal yang mengotori jiwa. Adapun tradisi maaf-memaafkan pada hari lebaran adalah ikhtiar untuk menyempurnakan diri agar terbebas dari dosa sesama manusia, setelah selama sebulan berusaha membersihkan diri dari dosa kepada Tuhan.
Ada satu momen istimewa dalam sejarah perayaan Idul Fitri, yakni pada tahun 1354 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1935 Masehi. Di tahun itu, Idul Fitri yang dirayakan oleh seluruh ummat Islam, berdekatan dengan perayaan Hari Natal yang dirayakan oleh seluruh umat Kristiani. Momen ini menjadi simbol koeksistensi yang unik antara dua agama besar, di mana dua perayaan suci berlangsung hampir bersamaan, dan dirayakan oleh seluruh umat di dunia.
Menurut sumber Almanak Nederlandsch-Indie (atau anda bisa cek melalui Konversi tahun Hijriah - Masehi), Hari Raya Natal tahun 1935 M bertepatan dengan hari Rabu Pon tanggal 29 Ramadhan 1354 H atau 29 Pasa tahun Jimakir 1866 AJ. Hal ini berarti bahwa Idul Fitri tahun tersebut kemungkinan jatuh hanya sehari setelah Natal, atau bahkan bisa jadi berlangsung bersamaan. Perbedaan ini wajar terjadi mengingat penentuan awal bulan puasa sering kali mengalami perbedaan sebagaimana yang sering terjadi sampai sekarang.
KHR Asnawi [1], muassis Nahdlatul Ulama, seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai "Taipan" di kalangan para pengusaha di Kudus, melihat momentum saat itu sebagai sebuah simbol kedamaian dengan kacamata toleransi yang luar biasa. Beliau mengirimkan sepucuk surat untuk koran Hindia Belanda Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie edisi 21 Desember 1935 [2], istimewanya surat tersebut dimuat dan ditampilkan dalam bentuk utuh tulis tangan aslinya.
Dalam suratnya, KHR Asnawi memberikan apresiasi terhadap koeksistensi dua hari raya besar umat beragama tersebut, yang menurutnya momen bertemunya dua hari raya besar itu adalah pertanda alam sebagai simbol harmoni dan kedamaian bagi seluruh makhluk di langit dan di bumi. Surat tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar tercipta kesejahteraan bagi semua golongan, baik pengusaha, pekerja, maupun seluruh lapisan masyarakat. KHR Asnawi berdoa agar keharmonisan ini terus berlanjut hingga generasi mendatang, dan seterusnya hingga hari akhir.
Surat yang menggambarkan refleksi atas peristiwa ini ditulis oleh KHR Asnawi Kudus pada tanggal 15 Desember 1935 di Kudus. Surat tersebut menggunakan aksara Arab Pegon dan ditulis dalam bahasa Jawa, sebuah bentuk komunikasi yang umum digunakan di kalangan ulama dan masyarakat muslim Jawa pada masa itu, khususnya di kalangan kaum santri. Pada akhir surat, tertulis nama pengirimnya dengan jelas: "Asnawi, Bendan, Kudus."
Berikut adalah isi surat tersebut:
قُودُوس، ١٥ دَيسَيمبٓر ١٩٣٥
سَڠكِيڠ سٓنٓڠ بِيڠَه هِيڠ مَانَه لَنتَارَن تَاهُون تِيڮَڠ دَاسَا ڮَڠسَل دِينتٓن أَرِييَايَا ﴿بَودَا﴾ سَاڮٓت ڤٓࢌُوك مُوفَاكَت كَالِييَن أَرِييَايَا إِيڠكَڠ وَونتٓن إِيڠ نٓڮَارِي لَندِي۔ إِيڠ مَوڠكَا ڤٓࢌُوكِيڤُون أَرِييَايَا بَوتٓن تَمتُو كِيتَا مَانُوسَا سَاڮٓت مَڠڮِيه مَالِيه، جَالَارَن ڤٓࢌُوكِيڤُون مَوڠسَا سَاتُوس تَاهُون سَاڤِيسَن۔ سَڠكِيڠ ڤُونِيكَا كَيڠِيڠ أُوڮِي دَادَوس ڠَالَامَت بَادَي رُوكُونِيڤُون ڤرَامَانُوسَا إِيڠكَڠ وَونتٓن سَككُورٓبَي لَاڠِيت سَكلُومَاهِيڠ بُومِي، كَالِييَن ڤِينَارِيڠَن سٓنٓغ وَه ڤِينَارِيڠَن أُونتُوڠ سَادَايَا ڤَارَا سٓࢮَاڮَر٢، ڤَبرِيك٢، سَكڤِيتُورُوتِيڤُون، مَاكَاتٓن وَاؤُو سَكلَاجٓڠِيڤُون ڠَنتَوس دُومُوڮِي أَخِير۔
كُولَا تِييَڠ نَامِي
أَسنَاوِي بٓندَن
قُودُوس
Transliterasi latin:
Qudus, 15 Desember 1935
Sangking seneng bingah hing manah lantaran tahun tigang dasa gangsal dintěn ariyaya (bâda) saget pethuk mufakat kaliyan ariyaya ingkang wonten ing negari Landi. Ing mângka pethukipun ariyaya boten tamtu kita manusa saget manggih malih, jalaran pethukipun mângsa satus tahun sapisan. Sangking punika kénging ugi dados ngalamat badé rukunipun pramanusa ingkang wonten sakkurebé langit saklumahing bumi, kaliyan pinaringan seneng wah pinaringan untung sadaya para sedhagar², pabrik², sakpiturutipun, makaten wau saklajengipun ngantos dumugi akhir.
Kula tiyang nami
Asnawi (desa) Bendan
Qudus
Surat KHR Asnawi dan deksripsi dalam surat kabar [3]


- Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Asnawi
- Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie edisi 21 Desember 1935
- Sumber: Dokumen oleh : Delpher >> Kranten
Tagar : Islam, Nahdlatul Ulama, Pegon, Sejarah
Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.
Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.
PAGE LAYOUT
Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4
DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt
MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt










