NAWAKSARA.ID
home reading Aplikasi
user
LOGIN Install app Beri masukan Privacy police Hubungi kami Adopsi website
ANDA AKAN LOGOUT ?

sentuh disini

PROFIL
PARTNER
BLOG
PROJEK
PUSTAKA
DOWNLOAD
MERCHANDISE
KONTAK
Introduction

Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.

Themes

Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |

Around the Web
Supported By :

Intip ruang lain dulu ya !

Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

  1. Home
  2. Blog
  3. Ikon banyuwangi

NAWAKSARA.ID

Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
find me on : nawaksara.id | @nawaksara.id | nawaksara channel

Diakses Pada: 2026-10-17 05:22:30
Sumber : https://nawaksara.id/wiyata/ikon-banyuwangi/

Mencari Naskah IKON dari Negeri Blambangan

8 May 2024 | 1463 | By : Nawaksara


ꦤꦶꦠꦶꦃꦱꦼꦥꦸꦂꦩꦿꦶꦁꦧ꧀ꦭꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ꦤꦒꦿꦶ꧈ꦏꦶꦤꦺꦤ꧀ꦫꦮꦸꦃꦲꦥꦸꦠꦸꦱ꧀ꦥꦿꦗ꧈ꦒꦾꦠ꧀ꦭꦸꦩꦩ꧀ꦥꦃꦱꦱꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ꦥꦫꦤ꧀ꦠꦶꦭꦱ꧀ꦱꦶꦁꦪꦸꦱꦸꦥ꧀꧈ꦧꦒꦶꦤ꧀ꦢꦏꦁꦕꦶꦤꦠꦸꦂꦲꦱꦿꦶꦁ꧈ꦢꦭꦃꦩꦕꦲꦤ꧀ꦭꦺꦴꦤ꧀ꦠꦂ꧈ꦪꦲꦁꦎꦱꦶꦁꦔꦶꦏꦸ꧈ꦭꦒꦾꦠꦶꦤꦶꦭꦶꦏ꧀ꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏ꧈ꦤꦱꦶꦪꦺꦴꦤꦭ꧀ꦪꦸꦤ꧀ꦲꦒꦮꦺ IKON ꦲꦶꦏꦶ꧈ꦠꦼꦩꦃꦩꦸꦒꦾꦭꦏ꧀ꦱꦤ꧉

Nitih sěpur mring Blambangan nagri,
kinén rawuh aputus praja,
gyat lumampah sasolahé,
paran tilasing yusup,
baginda kang cinatur asring,
dalah mocoan lontar,
ya hang Osing iku,
lagya tinilik pustaka,
nasional yun agawe IKON iki,
těmah mugya laksana. [1]

(Puh Dhandhanggula - Nawaksara)
***

Waktu menunjukkan jam 18.15 ketika hamba berpamitan kepada handai taulan di tengah acara Rakornas (Rapat Kerja Nasional) LESBUMI di Yogyakarta. Abang Gojek sudah menunggu di depan, masih ada waktu 20 menit untuk berangkat menuju Stasiun Tugu. Setibanya di Stasiun, kereta sudah menunggu beberapa jenak, kereta Wijaykusuma yang akan hamba naiki menuju Banyuwangi. Tan kawarna ing margi, jam 05.40 hamba tiba di Stasiun Banyuwangi, Mas Izzul sudah menunggu, kemudian mengajak keliling mencari sarapan Pecel Rawon, sebats dua bats mengepul sigaret lalu bergegas menuju lokasi acara. Dua hari ke depan, hamba akan mengikuti acara Sosialisasi Ingatan Kolektif Nasional (IKON) yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI. Banyuwangi ditunjuk sebagai salah satu kota yang akan mengusulkan naskah kunonya sebagai Ingatan Kolektif Nasional.

Apresiasi setinggi-tingginya kepada Perpustakaan Nasional atas gagasan mulia mereka dalam mencetuskan program IKON. Program ini merupakan langkah awal yang penting untuk mengakomodasi naskah-naskah kuno di seluruh wilayah Indonesia, yang memiliki potensi besar untuk diajukan sebagai Ingatan Dunia melalui UNESCO. Langkah ini bukan sekedar untuk menggugah ingatan dan mengukuhkan identitas bangsa, tetapi juga akan memperkaya khazanah warisan budaya Nusantara di kancah internasional.

Hamba terharu ketika berada di tengah Acara. Pertemuan formal dengan ruangan semegah itu, dibuka dengan lantunan mocoan lontar[2] yang klasik dan khas, disuguhkan oleh anak-anak muda Osing. Selain itu, peserta yang hadir bukan hanya dari kalangan pemerintahan dan akademisi, tetapi juga tampak hadir para budayawan, seniman, komunitas adat, kolektor naskah, dan para penggerak tradisi Osing. Mereka semua telah menjadi bagian penting dalam mengawal peradaban Nusantara, sehingga tidak boleh diabaikan karena pergerakan dan jasa-jasa mereka terus menghidupkan warisan budaya kita. Dalam hal ini pemerintah Banyuwangi, atau paling tidak pelaksana acara, telah berhasil merangkai kegiatan tersebut secara adil, merata, serta mampu mengakomodasi pihak-pihak yang sering kali diabaikan dalam kegiatan-kegiatan formal intelektual.

Dari acara sosialisasi IKON di Banyuwangi, ada beberapa catatan penting yang hamba amati. Pertama, sebagai langkah awal perlu melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak yang memiliki relasi dengan naskah sebagai artefak. Museum, perpustakaan, pemilik naskah, dan ahli waris adalah hal pertama yang perlu dicatat dengan rapi dan jelas. Mereka punya naskah berapa banyak, bahannya apa, isinya tentang apa saja, dan keterangan-keterangan lain mengenai sejarah kepemilikan, profil penulis, hingga kondisi perawatan naskah. Dalam hal ini, mungkin Banyuwangi sudah selesai, atau dalam proses pengerjaan berkelanjutan, dua jilid katalog naskah Banyuwangi adalah bukti nyata dari keberhasilan proses pertama ini.

Kedua, relasi naskah sebagai instrumen kebudayaan. Sangat lah penting mengamati bagaimana masyarakat menggunakan dan memperlakukan naskah di dalam kesehariannya. Apakah suatu naskah hanya digunakan sebagai bahan bacaan atau bahan ajar saja, atau juga digunakan dalam hal lain misalnya sebagai azimat, pusaka, hadiah, mahar, atau dekorasi. Dengan mengetahui seluk beluk ini, kita bisa memetakan siapa saja yang perlu dilibatkan dalam rangka mengusung suatu naskah sebagai IKON, sekaligus menjadi catatan penting berkaitan dengan konservasi dan pelestarian naskah. Dalam hal ini, walaupun para pemerhati naskah kuno di Banyuwangi telah selesai melakukan pemetaan terhadap para pelaku tradisi mocoan lontar yang menggunakan naskah sebagai instrumen ritual adat. Namun, tidak kalah pentingnya untuk melakukan konsolidasi dengan pihak-pihak yang juga menggunakan naskah untuk keperluan lain, seperti di Lombok, masyarakat Sasak terutama para Pembayun sering menjadikan naskah kuno Carita Nabi Aparas atau kisah-kisah keramat kenabian sebagai azimat, di dalam sejarah kita sering mendengar para Adipati sering kali menjadikan naskah yang ditulis oleh para Sunan sebagai mahar, baik mahar nikah atau mahar kesepakatan damai. Dengan memahami penggunaan naskah sebagai instrumen budaya di tengah masyarakat, dapat memberikan informasi yang lebih jelas di mana saja naskah itu berada, dan bagaimana naskah itu disimpan dan dirawat. Hal ini penting diperhatikan. Bukan dalam rangka menyalahkan sebuah prosesi ritual, dalam beberapa kasus, terkadang suatu naskah menjadi rusak karena ditaburi kemenyan, diolesi minyak misik, disiram air kembang dan jeruk nipis seperti jamasan pusaka keris.

Ketiga, relasi nilai dalam naskah. Meskipun di atas telah hamba terangkan bahwa acara sosialisasi IKON di Banyuwangi dihadiri oleh berbagai kalangan. Hamba tidak yakin jika di dalam ruangan tersebut diundang pula para praktisi pembuat jamu atau jampi, ahli petangan Jawa atau Nagadina, para dukun pembuat rajah / isim / wafak, atau ahli spiritual lain ?. Pun hamba tidak tahu apakah panitia juga mengundang para ahli strategi kaprajan, shapaka atau arsitek bangunan kuno, Juru sunggi / tatah / ukir, juru falak, atau guru tarekat ?. Relasi yang hamba maksud adalah keterkaitan antara nilai-nilai di dalam naskah kuno dengan manusia di sekitarnya baik dalam hal keilmuan, keahlian, atau profesi.

Naskah-naskah kuno tidak hanya mencatat cerita sejarah atau kisah-kisah adikodrati. Bukan kah naskah di Banyuwangi, di Jawa, atau di Nusantara secara luas juga berisi keilmuan-keilmuan yang tidak kalah pentingnya di banding keilmuan modern. Kitab Pawukon, Ajimantra, Palintangan, Panata Praja, Wiswa, Kagunan, Katuranggan, dan lain sebagainya memuat nilai-nilai yang ekuivalen dengan keilmuan modern. Keterlibatan orang-orang yang mempunyai relasi nilai dengan naskah kuno adalah hakikat dari Ingatan Kolektif itu sendiri. Semakin luas jangkauan relasi nilai dengan manusia di sekitar naskah itu berada, maka semakin jelas pula ingatan kolektif yang dibangun.

Mengarusutamakan satu naskah sebagai ciri khas kebudayaan suatu wilayah memang tidak lah salah, seperti Lontar Yusuf yang dijadikan figur Kabupaten Banyuwangi. Namun, hal tersebut jangan sampai menjadikan naskah-naskah lain terkubur, sehingga nilai-nilai di dalamnya dianggap tidak terafiliasi dengan kosmik peradaban di Banyuwangi. Maka, meskipun saat ini Banyuwangi sudah identik dengan Lontar Yusuf, nilai-nilai pada lontar[3] lainnya masih perlu dibangun, di antaranya dengan cara mengakomodasi pihak-pihak yang dianggap mempunyai relasi dengan naskah-naskah di Banyuwangi.

Terakhir, mengenai implementasi dan Pelestarian naskah. Seperti yang di sampaikan Prof.Oman pada presentasinya terkait Awareness, Interest dan Decision, adalah hal-hal yang perlu kita lakukan saat ini. Program IKON mempunyai cita-cita yang mulia, namun jangan berhenti pada harapan dan angan-angan saja. Jalan Sunyi Filologi telah menemukan keramaiannya, saatnya para pemikul naskah mewariskan kaweruhnya pada orang-orang di tengah keramaian. Ia tidak lagi sendiri, tinggal bagaimana dirinya apakah mau berbagi atau tidak ?, mau menunjukkan jalannya atau tidak ?, mau mengembangkannya atau tidak ?.

Tujuan Penelitian naskah kuno sama sekali bukan untuk menjaga ortodoksi nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur, melainkan untuk mengais pelajaran dari masa lalu agar bisa diimplementasikan dalam kehidupan masa kini. Naskah kuno jangan sekedar dijadikan sebagai benda keramat yang usang dan berdebu, yang hanya boleh disimpan di tempat sakral dengan bau kemenyan dan ritual-ritual yang rumit. Kekeramatan naskah kuno adalah ketika ia ada dan berguna bagi kehidupan di sekitarnya, keramatnya abadi ketika ia bisa menjadi nilai yang terus berkembang sesuai konteks zaman. Maka, selain melakukan konsolidasi terhadap relasi-relasi intern, para pemerhati naskah di Banyuwangi atau di mana pun berada perlu berkolaborasi dengan pihak-pihak yang dianggap relevan untuk mengimplementasikan nilai-nilai dari suatu naskah kuno.

Kolaborasi ini bisa dilakukan mulai dari ruang-ruang strategis seperti pemerintah yang berorientasi pada kebijakan, institusi pendidikan yang berorientasi pada keilmuan, hingga ruang-ruang teknis yang menjadi kebutuhan masyarakat, melalui content creator untuk membuat film, music, dll., melalui para seniman untuk menciptakan karya karya estetis berupa lukisan, lagu, pertunjukan, dll., hingga ruang-ruang perekonomian yang bisa menghidupi masyarakat melalui produk UMKM, kerajinan tangan, dekorasi dll. Dengan begitu cita-cita luhur program IKON akan tercapai dengan baik dan menyejahterakan.

Tambahan:
Program IKON yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional adalah program yang luar biasa, yakni menjaga naskah kuno agar menjadi ingatan kolektif, kemudian nantinya diharapkan bisa diajukan sebagai Ingatan Dunia melalui UNESCO. Namun, sepertinya ada satu hal penting yang luput dari perhatian, yaitu mengenai pelestarian dan pengarusutamaan aksara Nusantara. Mengapa ini penting? Bagaimana kita bisa mencapai tujuan menciptakan ingatan kolektif dari naskah kuno jika membacanya saja belum bisa?

Naskah-naskah kuno tersebut ditulis menggunakan berbagai aksara yang sebagian besar masyarakat kita saat ini tidak lagi mampu membacanya, seperti aksara Sunda, Jawa, Bali, Lontara, Batak, Lampung, Incoung, dan lain-lain. Bukankah sebaiknya langkah pertama yang dilakukan adalah mengarusutamakan belajar membaca aksara Nusantara ini? Dengan begitu, masyarakat akan lebih mampu menghargai dan memahami warisan budaya yang terkandung dalam naskah-naskah kuno tersebut.

Namun demikian, saya berbaik sangka bahwa Perpustakaan Nasional dan para Tim Ahli program IKON telah memperhatikan dan mempertimbangkan segala kondisi dan konsekuensinya dengan bijak. Semoga program IKON sukses dan dunia pernaskahan Nusantara terus maju. Mari kita semua mendukung upaya ini agar warisan budaya kita tetap hidup dan dikenal di seluruh dunia.

Banyuwangi, 08 Mei 2024

Diaz Nawaksara

  1. Pupuh Dhandhanggula oleh Diaz Nawaksara
  2. Mocoan lontar adalah tradisi masyarakat Osing di Banyuwangi untuk melantunkan kisah dari lontar.
  3. Penyebutan 'Lontar' dalam tradisi Banyuwangi merujuk arti yang sama dengan naskah, kitab, buku, yang berisi teks-teks kuno

Tagar : Banyuwangi, IKON

Nawaksara

Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.

Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.






Font size : 18

PAGE LAYOUT

Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4

DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt

MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt

18 pt

FITUR DIBATASI !

Silakan LOGIN untuk menampilkan fitur berikut :
Terjemah naskah | Bergabung di forum | Menguji project Beta | mengunduh file digital, dll

SENTUH UNTUK LOGIN

Leave a Comment
Cancel

You must be logged in to post a comment.

Categories
  • Ebook
  • Karya
  • Presentasi
  • Sastra
  • Wiyata
Tags
Akhlaq Alquran Aqidah Bahasa Biografi Cacarakan Cinta Fiqih Ghaib Hadits Ibadah Islam Jawa Kasampurnan Kawi Kejawen Keluarga Kristen Majalah Mardikawi Muhammadiyah Nahwu & Sharaf Panji Paramasastra Pegon Pesantren Politik Primbon Puasa Sasmita Sejarah Seni Serat Sosial Sunda Syi'ir Tarekat Tasawuf Tauhid Theosofi Walisongo Wanita Wayang Wicara Wirid & Doa
APLIKASI
Bali Keyboard
Bali Keyboard
Sunda Keyboard
Sunda Keyboard
Makassar Keyboard
Makassar Keyboard
Lonatara Keyboard
Lonatara Keyboard
Batak Keyboard
Batak Keyboard
Kawi Keyboard
Kawi Keyboard
Pegon Keyboard
Pegon Keyboard
Jawa Keyboard
Jawa Keyboard
Aksarecon
Aksarecon
Kamus Indonesia – Huruf Arab
Kamus Indonesia – Huruf Arab
Peta Aksara
Peta Aksara
profil
4.183.637 VISITOR
Copyright © nawaksara.id 2026

Siaaaap !!!

Btw, tengkiyu ya udah menghubungi Nawaksara, silakan tuliskan ide, saran, atau keperluan kamu disini...


Add To Home Screen

Akses laman nawaksara.id lebih cepat melalui layar utama perangkat anda.

DESKTOP VIEW
Tampil sebagai shortcut

MOBILE VIEW
Tampil sebagai aplikasi

Galeri Nawaksara