Introduction
Nawaksara is a collection of personal works related to culture, history, arts, and literature which were produced for the purpose of dedication and knowledge development.
Themes
Nusantara | Budaya | Tradisi | Sejarah | Seni | Sastra | Bahasa | Aksara | Manuskrip | Filsafat | Sofistik | Agama | Mistik | Kebatinan | Teknologi Informasi | Digitalisasi |
Supported By :
Intip ruang lain dulu ya !
Mimin masih mencari inspirasi
untuk mengisi konten di bagian sini
kalo ada ide, hubungi mimin pake tombol di bawah

NAWAKSARA.ID
Collection of personal works were produced for the purpose of dedication and knowledge development.Diakses Pada: 2026-10-17 05:20:48
Sumber : https://nawaksara.id/karya/orasi-budaya-aksara-kawi/

Orasi Budaya – Mawa Yaśa Ni Nguni I Jaya Ni Paratra
12 January 2022 | 733 | By : Nawaksara

Orasi Kebudayaan
MAWA YAŚA NI NGUNI I JAYA NI PARATRA
membawa kehormatan masa lalu untuk kejayaan di masa depan.
[oleh : Diaz Nawaksara]
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد للّه الذي علّم بالقلم، و علي رسول الله الصلاة والسلام
Singgih Hyang Sukma Allah SWT, tampien pinuja bhakti ning mami tulus, tuhwan göng manah inghulun, milu mětik pwa śabda tara, tan wruh ri paribhaśa kawya, amurang kapiḍatwan tuhun, nanging soh tan asěngikět kalěngěngan piḍatwatikin.
***
Yth.
***
Tiada ungkapan yang lebih indah untuk dipanjatkan selain puji syukur kepada Tuhan, bahwa sampai detik ini kita masih diberi kesempatan untuk menorehkan catatan di atas lembar kehidupan kita, dengan lebih éling lan waspada, setelah hampir 2 tahun lamanya kita melewati masa-masa sulit di tengah wabah Corona, garis tipis antara selamat atau terjerat dalam pertaruhan nyawa. Alhamdulillah ! Puji Tuhan ! Astungkara ! kita doakan semoga saudara-saudara kita, keluarga kita, terutama para pejuang yang gugur dalam melawan Covid-19 ditempatkan di sisi Tuhan dengan layak.
Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku…,
Puji syukur kepada Tuhan memanglah keniscayaan, namun berterima kasih kepada sesama manusia juga merupakan suatu tuntunan, dalam hal ini yang pertama dan utama saya ucapkan terima kasih kepada bapak wali kota Kediri, Bapak Abdullah Abu Bakar, yang telah memberikan kesempatan kepada kami, Generasi Milenial, bersuara di atas mimbar kaprajan untuk mengungkapkan rasa cinta kami kepada Pertiwi dan segala atribut peradabannya. Sembah sungkem kami untuk segenap jajaran pemerintahan Kota Kediri dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, semoga kebesaran hati bapak-ibu semua dalam berbagi panggung dengan generasi muda bisa menjadi teladan untuk kota-kota lainnya. Adapun orasi yang akan disampaikan, saya beri judul “Mawa Yaśa Ni Nguni I Jaya Ni Paratra” sebuah kalimat berbahasa Kawi yang artinya “membawa kehormatan masa lalu untuk kejayaan di masa depan”.
Nyuwun palilahipun, saya berdiri di sini atas nama si pungguk yang sedang merindukan bulan, si pungguk tuna yang bahkan tidak pernah tahu bagaimana rupa sang rembulan itu. Kami generasi para pungguk ini sudah terlalu kenyang mendengar cerita tentang rembulan yang “katanya” pernah menerangi semesta di kala purnama. Lantas kami bertanya : “Sudah beribu purnama berlalu, kenapa ia tak jua menerangi kami ?”
Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku yang saya hormati,
Sesungguhnya si pungguk adalah kita, dan rembulan adalah kejayaan Nusantara di masa silam. Kita terjebak dalam rindu, sambil terus mencari rembulan ke dalam gua batu. Kita selalu ingin Nusantara ini kembali berjaya, sambil terus terlena dalam kegemilangan peradaban mancanegara.
Mengagumi budaya bangsa lain sah-sah saja, tapi jangan terlena !
Meniru tradisi bangsa lain yang baik, boleh-boleh saja, tapi jangan terlena !
Mempelajari keilmuan bangsa lain bukanlah sebuah dosa, tapi jangan terlena !
Maka, seperti yang sering saya katakan bahwa “Aksara adalah Kunci”
Kunci untuk apa ? Aksara adalah kunci untuk membuka dan menemukan nilai-nilai luhur peradaban bangsa, yang tercatat di dalam literatur yang telah diwariskan berupa prasasti, kakawin, kidung, babad, serat, primbon, piwulang, dsb.
Tak heran, jika sebagian generasi muda hari ini lebih gemar menonton Drama Korea umpamanya, fasih mengucapkan bahasa Korea, bahkan terlihat semangat dan terdorong untuk mempelajari aksara Hangeul. Itu karena mereka belum tahu atau memang belum pernah diberi tahu bahwa leluhur mereka juga mempunyai kisah yang tak kalah dramatis melankolis dan juga romantis, Cerita Panji misalnya, bagaimana Inū Kṛtapati seorang pangeran mahkota kerajaan, justru rela melepas jubah kaprabon demi mengejar cinta sejati dari Dyah Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Di dalam Kakawin Smaradahana tuturnya begitu indah terucap untuk sang Kirana :
Dyah pemwitning akūng tinalyan ing unang kawilět i rěcěping tapih suji,
Sangsāra ngwang aléh rinimpus i lulutku pinahat těguhing raras hati,
Mantang matya kasingsětan turida rāga lukarana běsur kěnéng lara,
Rapwan śighra huwā larangku dhatěngéng wukir alaléh alantaran jurang.
(Kakawin Smaradahana, Wirama Rāgakusuma, III.3)
Oh dinda, perginya kakanda yang sedang kasmaran dibelenggu oleh kasih terlilit pakaian dinda begitu indah disulam,
Karena kesedihan kakanda, kakanda menjadi lelah diikat oleh kasih, namun begitu kuat walaupun sedih karena kasmaran.
Hampir kakanda menemui ajal karena terbelenggu oleh hati kasmaran, semoga kesedihan ini berakhir,
Semoga cepat hilang kesedihan kakanda, kakanda akan pergi ke gunung yang begitu asri di tebing jurang.
(Sudirawan, 2017: 15)
Satu hal, dramatisnya kisah yang diceritakan, serta indahnya tutur kata-kata yang diucapkan dalam kakawin itu, juga ditulis menggunakan aksara dengan lekuk liuk estetis tingkat dewata. Di dalam Kakawin Sang Hyang Kamahayanikan disebutkan bahwa Sang Budhalah yang mengajarkan langsung aksara-aksara itu kepada manusia.
Lalu kenapa kita masih terlena oleh gemerlap mancanegara, sedangkan dalam tubuh pertiwi begitu melimpah kekayaan budaya, tradisi, cerita, bahasa, aksara, bahkan seluruh dunia mengakui bahwa bumi nusantara adalah Surga. Dari Portugis, VOC, Inggris, hingga Hindia Belanda, berabad abad lamanya betah berdiri di bumi Nusantara untuk menikmati tanah Surga.
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman 2x
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
(Koes Plus – Kolam Susu)
Bapak, Ibu, dan saudara-saudara setanah airku…
Memang bukan perkara mudah, menggali nilai-nilai adiluhung dari artefak warisan leluhur, yang sebagian besar rupanya berada di luar negeri, belum lagi hak akses di dalam negeri yang terbatas serta sosialisasi pusat data yang kurang masif. namun seperti wali sanga bilang lunyu-lunyu pénékěna, walau sulit kita harus tetap berusaha menempuh jalannya. Karena dari artefak-artefak itu kita bisa menggali harta karun peradaban yang selama ini terpendam, dari prasasti-prasasti itu kita bisa membaca pengetahuan dan sejarah Nusantara yang otentik, dan dari lontar-lontar serta daluang-daluang itulah kita bisa menemukan jati diri kita yang hakiki, jati diri bangsa Indonesia yang berketuhanan, beradab, mandiri dan berdaulat.
Kutaramanawa Ḍarṃaśāstra umpamanya, bisa menjadi rujukan dalam masalah konstitusi, Sanghyang Siksa Kandang Kaṛsian bisa menjadi teladan kita dalam etika individual dan sosial, atau Kakawin Hañang Nirarṭa yang menjelaskan koneksi mutualisme antara manusia dengan alam semesta. Mengenai konsep ketuhanan dan kepercayaan, kita semua sudah sama tahu bahwa Kakawin Sutasoma telah menaruhnya sebagai satu keluhuran di dalam kalimat “bhinnéka tunggal ika tan hana ḍarṃa mangrwa”.
Bapak, Ibu, dan seluruh jiwa yang rindu pada keadiluhungan nusantara..
Yang kita perlukan hanyalah aksi, walaupun satu langkah tetapi pasti, menancapkan tekad yang kuat dalam menggali inspirasi, serta berani, tangguh dan pasang badan dalam menyuarakan keluhuran budi pertiwi.
Kita semua yang hadir di sini, di ruangan yang penuh inspirasi ini, di atas Bhumi Kadhiri yang pernah menjadi saksi kejayaan negeri ini, apakah kita semua siap menjadi punggawa peradaban ?
Dengan semangat yang berapi-api, dari Bhumi Bhrawijaya ini, kita akan memulai membuka Kunci menuju kejayaan, yaitu melalui Aksara Kawi yang merupakan Kunci untuk memahami artefak-artefak dan literatur warisan Nusantara yang selama ini masih menjadi misteri. Mari ! di momen yang penuh harapan ini, kita sama-sama memulai menggemakan Aksara kawi seperti yang pernah dicatat oleh Śri Sambhāra suyāwaraṇa.
Nihan ta wanéh pājara mami ri kita, ikang śarira i jro i yawa stūpa prasada. Kunang ta ngaranya ikang aksara: namah- siddham. . . .
KA, KHA, GA, GHA, NGA,
CA, CHA, JA, JHA, ÑA,
ṬA, ṬHA, ḌA, ḌHA, ṆA
TA, THA, DA, DHA, NA,
PA, PHA, BA, BHA, MA,
YA, RA, LA, WA,
ŚA, ṢA, SA, HA,
Nihan Iwir ning aksara pinakāntara nikang śarira prāsādā tatwa.
Hari ini, tepat pada hari Sabtu, tanggal 13 November 2021, menjadi catatan penting bahwa Pemerintah Kota Kediri menjadi saksi bahwa kita yang hadir di ruangan ini telah bertekad untuk menjaga dan melestarikan Aksara Kawi sebagai kunci peradaban bangsa.
Perlu kita apresiasi bersama, bahwa saat ini Aksara Kawi tidak lagi menjadi aksara arkais yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman, para pegiat aksara Nusantara sudah banyak mengembangkan aksara Kawi di ranah digital baik berupa fon atau gambar dekoratif, dan kabar baiknya, per bulan Desember 2020 Aksara Kawi sudah didaftarkan ke UNICODE, berkat tangan-terbaik generasi bangsa, yakni Aditya Bayu Perdana, Ilham Nurwansyah, Komunitas Segajabung Yogyakarta dan difasilitasi oleh PANDI sebagai salah satu anggota konsorsium UNICODE. (Mereka semua hadir di ruangan ini, kami persilahkan untuk berdiri, dan beri tepuk tangan sebagai penghargaan dan apresiasi). Tidak lama lagi kita akan bisa menulis dan membaca Aksara Kawi secara digital pada perangkat elektronik baik komputer ataupun gadget. Dan tentunya seluruh sumber-sumber artefak Kawi berupa prasasti, kakawin, kidung dan semua yang menggunakan aksara Kawi akan bisa ditransformasi ke dalam ruang digital dan bisa terbaca secara algoritmik.Kabar baik lainnya adalah, Pemerintah Kota Kediri sebagai tempat lahirnya maha karya Kakawin Bhāratayudḍa, juga sudah berkomitmen untuk mendukung dan mengawal proses pengembangan ini sampai menuju Kongres Aksara Kawi yang ditaegetkan bisa terlaksana di tahun 2022.
Jangan ragu untuk mengawal dan menyertai pelestarian Aksara Kawi, karena menjaga Kawi berarti turut andil menjaga keutuhan negeri, tampak jelas dari semboyan negara Indonesia “Bineka Tunggal Ika” yang juga ditulis dalam Kawi.
Menjaga Kawi sama dengan menjaga akal budi pertiwi, karena dari kawi, lahir karya-karya besar yang menjadi inspirasi bagi kehidupan bangsa Indonesia hari ini. akhir kata saya ingin mengutip satu bait yang mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi kita untuk membulatkan tekad mengabdi pada Semesta dan Penciptanya.
Dikutip dari naskah Amanat Galunggung yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy sebagai satu misi besar dalam proses kita hari ini yakni :
CONNECTING THE PAST TO THE FUTURE
“Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu catangna.”
Ada masa lalu ada masa depan, bila tak ada masa lalu tentu tak akan ada pula masa depan, ada dahulu ada sekarang, bila tiada dahulu tentu tiada pula masa sekarang, Ada tunggak ada batang, bila tak ada tunggak tentu tak akan ada batang,(namun dari sebatang pohon itu tadi) Ada yang menjadi tunggul, ada pula yang menjadi catang.
Semua kembali kepada pribadi kita, apakah ingin menjadi Tunggul yang walaupun pernah ditebang ia siap tumbuh kembali kemudian menghasilkan tunggak-tunggak karya baru yang berguna bagi kehidupan, atau hanya menjadi Catang yang setelah ditebang hanya pasrah tergeletak kemudian lapuk secara perlahan hingga melebur bersama tanah.
Namun, mari sadari bahwa :
﴾ خير الناس أَنفعهم للناس ﴿ الحديث
Sekian
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Kediri, 13 November 2021

Diaz Nawaksara
==========
Orasi kebudayaan ini disamopaikan pada kegiatan FGD Aksara Kawi tanggal 12-14 November 2021 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur. [tampilkan rincian acara]

Tagar : Wicara
Turut andil menjaga warisan budaya Nusantara.
Suka dengan konten Nawaksara.id ? Kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kopi atau bagikan konten ini di media sosial.
PAGE LAYOUT
Atur halaman untuk mendapatkan hasil cetak atau file yang baik dan nyaman dibaca. Secara default file akan tercetak dengan ukuran A4
DESKTOP VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 12-18 pt
MOBILE VIEW
Ukuran font yang direkomendasikan 18-25 pt










